Senin, 15 Februari 2016

Ingatan

Ibu,
Aku mengulang dalam khayal sejarah hidup kita.
Kediaman kita, cerita segelas harapan yang ditenteng kosong oleh ayah.
Angin  menepuk-nepuk atap rumah kita.
Aku dan cerita anak dalam karung.

Kentang goreng, kerak nasi dibaluri air teh yang membuat aku merasa sangat kaya raya saat itu.
Atau cerita air didihan nasi penggati susu yang amat mahal.
Aku hanya sedang mengulang lagi cerita cerita kebanggaan yang dibangun dari kepahitan hidup.
Air mata mungkin hanya hiasan hiasan perindu saat mengingat seperti ini. Aku sedang merasa kecil lagi.
Keras.
Ada juga cerita wafer yang dipotong empat untuk empat orang anak yang sangat girang menikmatinya satu persatu.
Hari ini adalah pembalasan untuk semua itu, pembuktian jika kesulitan melahirkan hati dan tekad bak baja.

Bukan kekayaan yang membuat rendah hati.
Bukan kenikmatan yang membuat keramahan.
Bukan juga kemewahan yang membuat kekuatan.

Sampaikan pada ayah yang sudah sering mengiba. Anaknya sudah dewasa dan segera mengganti cerita lama jadi kebanggaan.   
Ingatan pengusik keheningan yang menguras perasaan dan air mata namun sedap pelacut semangat.
Kemana lagi aku mengadu bu, kalau bukan ke Tuhan yang kau kenalkan padaku sejak kanak.
Nama yang pertama dilafazkan ayah di telinga ku dulu.

Aku rindu …
Aku rndu …

Ya allah aku rindu …